• Pagelaran Wayang Kulit
  • Dalang Tribasa
  • Pakeliran Wayang Purwa
  • Dalang Tribasa
  • Dalang Intertain
  • Tri Bayu Santoso
  • Dalang Inovatif
  • Pelaku Budaya
  • Youtube
  • Facebook
  • Twitter
  • Blogger
  • Saoundcould
  • Foursquare
  • Instagram
  • Pagelaran Wayang Kulit

Senin, 05 Maret 2018

Pagelaran Wayang Kulit " Candi Sapta Renggo Binangun "


Pagelaran Wayang Kulit Dalam Rangka Dies Natalis SMA Negeri 1 Jatirogo Tuban,Acara pada hari dan tanggal  Sabtu,17 Maret 2018,Catat dulu hari dan tanggal  mainnya dan ajaklah teman saudara dll untuk menyasikan Wayang Kulit Gratis

Lakon  " Candi Sapta rengga Binangun " Oleh Dalang Ki Tri Bayu Santoso ( Dalang Tribasa ) bertempat di Halaman depan SMA Negeri 1 Jatirogo JL.Raya Bander 20 Jatirogo
Readmore >>>

Kamis, 29 Juni 2017

Pagelaran Wayang Kulit Lakon Wahyu Makutharama


Bagi Masyarakat Tuban dan sekitarnya terutama Masyarakat penggemar Wayang Kulit diwilayah Senori dan sekitarnya Saksikan Pagelaran Wayang Kulit Dalang Tri Bayu Santoso ( Dalang Tribasa )  Kamis ,13 Juli 2017 di Dusun Banu Desa Katerban Kec Senori Dengan lakon " Wahyu Makutharama " diramaikan dengan Lawak Joklitik - Joklutuk
Readmore >>>

Kamis, 01 Desember 2016

Pagelaran Wayang Kulit Dalang Tribasa Lakon Petruk Dadi Ratu


Dalam Rangka Hut ke 1 Terminal Transit Utama Tuban ( TTU Tuban ) Diadakan Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk Oleh Dalang Ki Tri Bayu Santoso ( Dalang Tribasa ) Dengan Lakon " Petruk Dadi Ratu" Bersama Bintang Tamu Sinden Jepang Nyi Hiromi Kano ( Solo )

Dalam Pentas Ki Dalang Tribasa akan di Iringi Sanggar Bayusiwi Komplit ,Saksikan dan Nikmati Lakonnya ditanggung seru dan ramai 

Ingat Hari dan tanggal Pentasnya :

Pementasan diadakan hari Sabtu ,03 Desember 2016 di Pertamina TTU Tuban Kompleks Pelabuhan  Tanjung Awar - Awar  Desa Tasikharjo  Kecamatan Jenu Tuban
Readmore >>>

Selasa, 19 Juli 2016

Saksikan Pentas Pagelaran Wayang Kulit Dalang Tribasa di Juran


Saksikanlah Pagelaran Wayang Kulit Semalam suntuk di Desa juran kecamatan Bulu Kabupaten Tuban ,yang akan pentas adalah Dalang Tribasa ( Ki Tri Bayu Santoso ) dengan Lakon " Gatotkaca Winisuda " Catat hari dan tanggal mainnya ....Ingat hari Minggu,24 Juli 2016
Readmore >>>

Sabtu, 25 Juni 2016

Dalang Tribasa Show di Medalam Senori


Dalang Tri Bayu Santoso bersama Sinden Lidia dan Gareng Yono Rengel saat pentas di medalem Senori 2016
Readmore >>>

Minggu, 10 April 2016

Dalang Tribasa Akan Pentas Di Medalem Senori Tuban


Show Tribasa - Bagi Penggemar Dalang Ki Tri Bayu Santoso ( Dalang Tribasa ) Saksikanlah dan Tonton Pentas Pagelaran Wayang Kulit  Di Desa Medalem Kecamatan Senori Kabupeten Tuban 

Pentas diadakan Hari Minggu,24 April 2016  dengan Lakon Banjaran Gatotkaca,Bagi Masyarakat Senori dan Masyarakat Medalem  Khususnya Jangan sampai lupa dan tidak menonton Penampilan Dalang Tribasa bersama Sanggar Bayusiwi Solo pasti Kreatif dan Inovatif Penampilannya
Readmore >>>

Rabu, 06 Januari 2016

Dalang Tribasa Show Di Lamongan


Dalang Tri Bayu Santoso ( Dalang Tribasa )  Hari Sabtu Tanggal 06 Februari 2016 Show di Desa Tambakrigadung Kec Tikung Lamongan  Bersama Sanggar Bayusiwi  Dengan Lakon " Wahyu Cakraningrat "
Bagi Penggemar Wayang Kulit Lamongan sekitarnya Catat Hari dan  tanggal mainnya
Readmore >>>

Senin, 16 November 2015

Dalang Harus Masuk Jiwa Masyarakat

Ki Manteb Soedarsono
Dalang harus bisa memasuki jiwa masyarakat agar berbagai pesan tentang nilai-nilai kehidupan yang diusung melalui pementasan wayang sampai kepada mereka, kata dalang kondang dari Kota Surakarta Ki Manteb Sudarsono.

"Dalang harus bisa masuk ke hati masyarakat. Dia harus bisa 'ngemong rasa' (mengelola perasaan, red.) masyarakat. Dalang netral, dia seniman yang menjadi milik bangsa, bukan milik partai," katanya di Borobudur, Sabtu sore.

Manteb mengatakan hal itu saat sarasehan pedalangan yang diselenggarakan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Magelang di Gandok Sawitri, kompleks Pondok Tingal Borobudur, Kabupaten Magelang, Jateng, sekitar 500 meter timur Candi Borobudur.

Ia menilai sejumlah dalang saat ini memiliki kemampuan dan keterampilan memainkan lakon wayang yang lebih baik ketimbang para dalang kategori usia tua.

Akan tetapi, katanya pada sarasehan dengan moderator dosen Program Studi Seni Pedalangan Jurusan Seni Murni Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Junaidi itu, mereka masih harus banyak belajar penjiwaan tentang kehidupan seorang dalang dan beragam karakter serta kisah pewayangan.

"Harus memiliki kemauan untuk terus menerus belajar supaya makin kuat dalam penjiwaan. Belajar apa saja, termasuk belajar tentang situasi negara, tahu politik dan situasi kehidupan aktual bangsa dan negara," katanya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengemukakan pentingnya dalang untuk tidak terpaku kepada pakem pewayangan, seperti gaya Solo, Yogyakarta, Kedu, dan Banyumasan, namun mengembangkan kreativitas dalam pementasan agar menarik perhatian masyarakat.

Jika seorang dalang tidak terpaku pakem pakeliran, katanya, dia bisa laku mendapat tanggapan di berbagai daerah dengan masyarakat yang berlatar belakang beragam.

Namun, ia juga mengharapkan para dalang untuk tidak merasa puas jika laris mendapat tanggapan di berbagai tempat karena dia harus terus menerus belajar mengembangkan kemampuan dan memperkuat penjiwaan terhadap dunia pewayangan.

Ia mengatakan sikap percaya diri sebagai hal penting dimiliki seorang dalang agar tidak merasa canggung oleh penonton yang dari kalangan pejabat.

"Orang 'mayang' (mendalang, red.) seperti mencangkuli tegalan sendiri dan sawah kita sendiri dengan panenan untuk diri sendiri. Percaya diri, tidak ragu-ragu memainkan wayang," katanya pada sarasehan yang diikuti para dalang dari Kabupaten Magelang dan sejumlah daerah lainnya, seperti Kendal dan Banjarnegara. Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno dan budayawan Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang Sutanto Mendut, juga hadir pada kesempatan itu.

Ketua Pepadi Kabupaten Magelang Muhyat jumlah dalang yang terdata di organisasi itu, sekitar 60 orang. Mereka yang tersebar di 21 kecamatan di Kabupaten Magelang tersebut, terdiri atas kategori dalang muda sekitar 15 orang, dalang dewasa 30 orang dan dalang tua 15 orang.

"Sarasehan ini penting untuk mengembangkan kemampuan dan memperluas wawasan para dalang, karena umumnya mereka menjadi dalang karena turun temurun dan belajar secara autodidak, hanya sedikit yang menjadi dalang karena belajar di pendidikan formal," katanya.

Pada kesempatan itu, ia menyebut sejumlah nama dalang di Kabupaten Magelang yang pada era 1950-1970, kondang hingga di luar daerah setempat, seperti Ki Joyo Kandar (Borobudur) dan Ki Cermo Karsono (Muntilan).

Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © 2015 



Readmore >>>

Kreativitas Dalang Dan Kebutuhan Penonton


Wayang kulit ‘Purwa’ bukan sekedar seni pertunjukan yang karenanya bisa diubah sekenanya. Modifikasi dalam seni pertunjukannya diperbolehkan, namun tetap harus ada patokan yang jadi pegangan, tidak serta merta keluar sepenuhnya dari pakem yang ada.

Wayang Kulit Purwa ‘Jawa’, yang biasa disebut sebagai ‘wayang kulit’ saja, memang terbukti bisa bertahan dari terpaan zaman. Tetapi itu melalui proses adaptasi dan penyesuaian yang luar biasa pula, mampu tetap memikat penontonnya dengan kreativitas sang dalang, maupun kesediaan insan wayang untuk ‘menuruti’ selera penontonnya. Bertemunya dua kutub tersebut, kreativitas dalang dan selera penonton, yang memungkinkan wayang tetap digemari dari generasi ke generasi, terlihat pada setiap pertunjukan wayang, jumlah penonton dari kalangan muda selalu lebih banyak.

Memang ada pakem-pakem atau aturan baku dari wayang yang harus dipatuhi. Tetapi ketaatan pada standar baku tidak boleh kaku, tetap harus ada ‘jembatan’ agar pentonton mengerti apa yang dimaksudkan dalam pakeliran tersebut, misalnya, caturan dalam bahasa Kawi atau Jawa Kuno yang makin jarang orang mengetahui maknanya. Demikian diungkapkan Ki Purbo Asmoro, dalang wayang kulit ‘Gagrak Surakarta’ hadir sebagai pembicara pada diskusi “Wayang, Antara Kreativitas Dalang dan Kebutuhan Penonton’ di rumah penyinden asal Amerika Serikat, Kitsie Emerson di Kemang Utara VII -9, Jum’at (3/5/2013).
“Kalau terlalu baku, yang mengerti hanya dalangnya, menyenangkan hati si dalang saja dan tidak mengerti bahwa dia itu ditonton orang,” ujarnya.

Sebagai dalang yang sudah dua puluhan tahun berkecimpung dalam dunia pewayangan, adaptasi berbagai kreasi baru memang semakin marak. Selera penonton pun berbeda-beda, ada yang menyukai, misalnya, tambahan lawak dan campursari dalam pertunjukan wayang, namun ada juga penonton yang fanatik pada gaya klasik.

Daerah seperti Purworejo, ujarnya, welcome terhadap gaya pakeliran yang berbeda, yang meski dekat dan sangat familiar dengan gaya Yogyakarta, tetap antusias dengan pementasan wayang gaya Solo, saat dalang asal Pacitan tersebut pentas di alun-alun Purworejo. Sedangkan daerah seperti Tuban dan Nganjuk merupakan daerah dengan penonton wayang yang sangat menyukai tambahan lawak dan campursari.

“Sedangkan Sragen, itu daerah yang seneng nanggap wayang tapi nggak ditonton. Kalau di Pati, para penontonnya tidak pernah bertepuk tangan tidak pernah tertawa, tetapi tidak juga mau beranjak pergi,” kata Ki Purbo tertawa.
Penambahan unsur dari luar dunia pakeliran seperti lawak dan campursari tersebut, diakui memang bisa ditolerir untuk dalang-dalang tertentu, tetapi ada juga yang tidak bisa ditolerir oleh pentontonnya sendiri, yaitu untuk dalang yang memang disukai karena ke-baku-an atau keklasikannya. Sejumlah peserta diskusi mewakili penonton pun mengungkapkan hal serupa.

Budaya Pengisi Jatidiri dan Karakter Manusia
Yanusa Nugroho, sastrawan, mengungkapkan wayang sebagai salahsatu khazanah milik Indonesia, seyogianya tidak diubah-ubah yang terlalu keluar dari pakem untuk menuruti selera penonton. Sebaliknya, dalanglah yang harus mendidik penonton dengan nilai baku dan kreativitasnya, menampilkan nilai-nilai yang terkandung dalam wayang agar dapat diinternalisasikan.

Wayang, ujarnya, merupakan mitologi Jawa sebagai sumber paling dalam dan murni, sebagaimana peradaban Yunani menjadikan mitologi mereka untuk membangun karakter, budaya dan peradabannya sendiri. Penulis yang mengaku kesengsem dengan Ki Purbo setelah menonton pementasan “Bargawa” tersebut, sangat mengagumi wayang tidak hanya pada seni pakelirannya, tetapi betapa dengan wayang tersebut dapat dengan apik digambarkan sifat-sifat manusia dengan seluk-beluknya, yang dapat dijadikan unsur pembangun kemanusiaan.

Dari sisi pertunjukannya, Yanusa melontarkan uneg-uneg, bisakah wayang dikenakan tiket sebagaimana pertunjukan teater atau konser musik, yang meski tiketnya mahal tetap diserbu penontonnya. Hal itu ia dasarkan pada pemikiran bahwa penonton yang menyadari manfaat atau merasa butuh akan dengan sukarela mengeluarkan uang sejumlah, misalnya Rp 50.000, untuk menonton pertunjukan wayang.
“Contohnya teater asing dari Inggris yang mementaskan ‘Hamlet’ pada tahun 1980-an, waktu itu kami harus membayar Rp50.000,” ujarnya. Uang sejumlah itu pada waktu itu, bagi golongan mahasiswa, tergolong besar, tetapi toh peonton Hamlet tetap membludak.

Akan tetapi, ide tersebut diakuinya memang belum tentu relevan untuk saat ini, walau di masa yang akan datang bisa saja diterapkan, bergantun pada perkembangannya.
Diskusi yang dihadiri sekitar 50-an penggemar wayang tersebut berlangsung hingga pukul 01 dinihari. Dilengkapi pula dengan pementasan singkat oleh Ki Purbo Asmoro lakon “Arjuna Wiwaha” dengan berbagai trik dan penjelasan sejumlah tatanan baku pakeliran yang menjadi bahan diskusi malam itu.

Di akhir acara, nyonya rumah, Kitsie Emerson yang telah merampungkan penulisan buku tentang wayang Gagrak Solo dalam tiga gaya pakeliran (pakeliran klasik, pakeliran padat dan pakeliran semalam suntuk) dari lakon yang dibawakan Ki Purbo Asmoro, menghadiahkan satu set buku kepada rombongan PSMS Oye (Penggemar Sejati Manteb Sudharsono). Buku yang dikerjakan dengan sangat teliti tersebut diterbitkan dalam tiga bahasa: Jawa, Indonesia dan Inggris.

Fathurrahman Tekad. Penikmat Wayang
Readmore >>>

Jumat, 07 Agustus 2015

Pagelaran Wayang Kulit Dalang Tribasa di Alun - Alun Tuban

Pagelaran Wayang Kulit- Bagi Masyarakat Tuban dan sekitarnya saksikanlah Pagelaran Wayang Lakon" Banjaran Bima" dengan Dalang Ki Tri Bayu Santoso ( Dalang Tribasa ) Pada hari Senin Tanggal 31 Agustus 2015 bertempat di Alun - Alun Tuban 

Saksikan Penampilan Dalang Tribasa bersama Sanggar Bayusiwi .............Catat Hari dan tanggal mainnya
Readmore >>>

Pagelaran Wayang Kulit Dalang Tribasa di Bangilan Lakon" Banjaran Wisanggeni


Pagelaran Wayang Kulit - Saksikanlah Pagelaran Wayang Kulit " Lakon Banjaran Wisanggeni " Dengan Dalang  Ki Tri Bayu Santoso ( Dalang Tribasa ) pada hari Kamis ,20 Agustus 2015 dalam rangka pernikahan Putri Ibu Maspu'ah di Desa Talok Kec Bangilan Tuban Jatim

Dalang Tribasa akan tampil dengan Sanggar Bayusiwi dan bintang tamu Lawak Jo Leno Solo,Ingin Tahu Penampilan Dalang Tribasa  catat hari dan tanggal mainnya....... Jo lali lho
Readmore >>>

Minggu, 14 Desember 2014

Pagelaran Wayang Kulit Tribasa Di Lamongan


Dalang Tri Bayu Santoso ( Dalang Tribasa ) Akan Pentas di Lamongan ,Tepatnya hari Sabtu,27 Desember 2014 di Desa Tambakrigadung Kecamatan Tikung Lamongan ,Dengan Lakon Wisanggeni Rabi ,Bagi Warga Lamongan dan sekitarnya Saksikan dan nikmati Pagelaran Wayang Kulit  Dalang Tribasa di Rumah bapak Bambang
Readmore >>>

Selasa, 16 September 2014

Pandawa Syukur Oleh Dalang Tribasa



Dalam Rangka Sedekah bumi Desa  Pamotan ,hari Jumat,19 September 2014,akan digelar Wayang Kulit Purwa " Lakon Pandawa Syukur " oleh dalang Ki Tri Bayu Santoso  ( Dalang Tribasa )
Dalam cerita Lakon tersebut ,diceritakan keinginan bulat para pandawa untuk mengadakan acara puji Syukur kepada Sang Pencipta ( Allah ) atas Diberi Anugerah Negara Amartha yang gemah Ripah Loh Jinawi kerta raharja,merupakan negara yang sangat elok dan indah oleh perantara batara Indra,bagaimana cerita lengkapnya selamat menonton
Readmore >>>

Minggu, 10 Agustus 2014

Show Dalang Tri Bayu Santoso ( Dalang Tribasa )



Show Dalang Tribasa - Di Akhir bulan Agustus 2014 tepatnya hari minggu tanggal 24 Agustus 2014,dalang Tri Bayu Santoso ( Tribasa ) akan pentas di Desa Besowo Kec.Jatirogo Kab.Tuban,dengan lakon " Rama Nitis " Dengan Sanggar Karawitan BayuSiwi " Bagaimana Ceritanya bisa disaksikan dan ditonton bersama sama ...
Readmore >>>

Jumat, 25 Juli 2014

Makna Ketupat Lebaran



Lebaran identik dengan ketupat. Ketupat tak sekedar makanan, namun ia sebuah simbol bagi perayaan dan hakikat lain terkait dengan hadirnya Hari Raya Idul Fitri. Kartu ucapan lebaran sudah hampir pasti diwakili oleh gambar ketupat, bukan buah-buhan atau pepohonan

Dibalik simbol ketupat saya mencoba merenungi makna dibalik makanan khas Indonesia ini. Ketupat sendiri berasal dari bahasa Jawa. Di kalangan orang Sunda ketupat dikenal dengan nama Kupat. Tak hanya di Jawa, di Sumatera dan tempat lainnya ketupat seolah menjadi makanan “pokok” di hari penuh sukacita bagi kaum muslimin di Nusantara.

Asal-usul ketupat konon dimulai dari zaman Wali Songo, para dai terkenal penyebar Islam di Jawa. Dalam sejarah, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada masyarakat Jawa. Beliau membudayakan dua kali Bakda, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut Bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah sudah selesai dimasak, kupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan. (Sumber : Sejarah Asal-usul Ketupat http://tanbihun.com/sejarah/sejarahasal-usul-ketupat/)

Ketupat selalu berbentuk persegi empat menyerong diagonal. Bahan ketupat berasal dari daun kelapa yang masih muda (janur) yang sebelum lebaran sering kurang dimanfaatkan. Cara membuat anyaman ketupat pun tidaklah mudah, bagi pemula. Perlu ketekunan dan kesabaran hingga ketupat bisa sempurna terbentuk.
Bagaimana ketupat dimasak hingga bisa matang dan tidak berantakan? Awalnya pembuat ketupat memasukkan beras ke dalam anyaman ketupat hingga memenuhi setengah ruangannya. Setelah selesai, anyaman ketupat berisi beras dimasak dengan cara menggodok atau merebus dalam panci atau kuali berisi air. Berbeda dengan memasak nasi, memasak ketupat perlu waktu cukup lama hingga anyaman ketupat menjadi padat berisi.
Dari rangkaian fisik ketupat, ada filosofi hidup yang bisa kita tarik dari hakikat sebuah ketupat.yaitu :
  1. Ketupat melambangkan kejernihan dalam kerumitan. Ketupat yang dibuat dari bahan janur berwarna cerah melambangkan kesucian. Warna cerah ini mampu menutupi rumitnya anyaman ketupa. Kerumitan atau kesulitan hidup akibat salah, khilaf dan alpa bisa tersucikan oleh saling memaafkan dan terampuninya dosa di hari kemenangan, Idul Fitri. Di hari raya, orang beriman bukan hanya memperingati kemenangan karena selesai berpuasa, namun paling hakiki kemenangan karena harapan dosa yang diampuni dan kesalahan yang termaafkan

  2. Ketupat melambangkan ketekunan dan kesabaran. Seperti seorang yang membuat ketupat yang tekun mengayam satu-demi satu anyaman hingga bentuk segiempat diagonal tampak sempurna. Ketekunan dan kesabaran dalam menjalani puasa dan ibdah lain di bulan Ramadhan menjadi indah lahir batin di hari kemenangan

  3. Ketupat adalah menaikkan citra. Daun kelapa muda atau janur yang tadinya kurang berharga berubah menjadi bahan yang sangat terhormat karena menempati piranti alat masak yang mewah dan hadir pada waktu sangat istimewa. Di hari yang Fitri saatnya kita menempatkan setiap orag menjadi terhormat siapapun dia, karena kita butuh maaf dari mereka. Dan sebaik-baik manusia adalah dialah yang bertaqwa

  4. Ketupat adalah simbol kekompakan. Isi ketupat haruslah padat bila ia ingin dilirik orang. Ketupak yang tidak padat akan mengurangi bentuk dan selera orang yang memandangnya. Dalam kehidupan, kekompakan pastilah sebuah keindahan yang mendatangkan semangat bagi setiap orang untuk berbuat kebaikan. Di hari lebaran, kekompakan menemukan momentumnya. Keluarga dan sahabat berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan dan semangat baru

  5. Ketupat matang tak pernah melewati batas anyaman. Bila ketupat sudah matang, beras yang memadat akan tetap dalam batas anyaman dan tidak saling menonjolkan diri ke luar. Di hari raya lebaran, seorang yang sudah matang imannya, takkan pernah mau menonjolkan dirinya. Ia tundauk pada batas-batas agama, etika dan norma.

  6. Ketupat mewakili semangat kebersamaan. Ketupat tak mengundang selera bila dinikmati sendiri. Ketupat perlu pengiring atau teman agar terasa nikmat disantap. Opor ayam, rending, sambal goreng kentang dan ati, sambal, kerupuk dan makanan pengiring membuat menu ketupat begitu nikmat. Di hari lebaran, hari dimana semua orang berinteraksi, saling memaafkan dan saling memberi. Kebersamaan sangat indah dan member rasa yang berkesan.
Semoga kita bisa menikmati ketupat lebaran di hari penuh kegembiraan. Tak hanya menyantap ketupat dengan menu pengiringnya, namun juga hakitat yang dalam dibalik rasanya yang nikmat.


Readmore >>>

Kamis, 03 Juli 2014

Hakikat Puasa Dan Bertemu Dengan Allah


Marhaban Yaa Ramadhan.
Mari kita jemput keberkahan dan rahmat Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, insyaallah pada bulan Ramadhan tahun ini .

Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mendengar seorang wanita tengah mencaci-maki hamba sahayanya, padahal ia sedang berpuasa. Nabi saw, segera memanggilnya. Lalu Beliau menyuguhkan makanan seraya berkata, “Makanlah hidangan ini “. Keruan saja wanita itu menjawab, “Ya Rasulullah, aku sedang berpuasa”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata dengan nada heran, “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sambil mencaci-maki hamba sahayamu ?”. Sesungguhnya Allah menjadikan puasa sebagai penghalang (hijab) bagi seseorang dari segala kekejian ucapan maupun perbuatan. Betapa sedikitnya orang yang berpuasa dan betapa banyaknya orang yang lapar”.  (HR Bukhari)

Dengan hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ingin mengingatkan kaum Muslim hakikat puasa yang sebenarnya.
Istilah shaum bersumber dari bahasa Arab yang artinya, menahan, mengekang atau mengendalikan (al-imsak).

Secara syariat (fikih), makna puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan mulai terbitnya fajar shubuh hingga terbenamnya matahari yang disertai dengan niat.

Puasa terdiri dari tiga tingkatan.

Puasa perut, tingkatan paling awal adalah puasa yang memenuhi syariat, yakni puasa muslim pada umumnya.

Puasa hawa nafsu, tingkatan selanjutnya setelah puasa perut, puasa sesauai syariat yang diikuti dengan menahan hawa nafsu.

Apabila engkau berpuasa hendaknya telingamu berpuasa dan juga matamu, lidahmu dan mulutmu, tanganmu dan setiap anggota tubuhmu atau setiap panca inderamu” (al Hadits).
Puasa qalbu, tingkatan tertinggi setelah puasa hawa nafsu, puasa yang diikuti dengan menahan dari segala kecenderungan yang rendah dan pikiran yang bersifat duniawi, serta memalingkann diri dari segala sesuatu selain Allah.

Keadaan sadar(kesadaran) atau perilaku/perbuatan secara sadar dan mengingat  Allah (dzikrulllah)  inilah kunci dari Taqwa

Sayidina Ali bin Abi Thalib ra mengatakan “Puasa Qalbu adalah menahan diri dari segala pikiran dan perasaan yang menyebabkan terjatuh pada dosa”.

Bertemu Allah

Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari).
Sebagian muslim memahami bahwa yang dimaksud dengan hadits ini adalah  dengan amal puasa kita dapat bertemu dengan Allah di akhirat kelak.

Benar, bahwa dengan amal puasa dan amal-amal lainnya yang menunjukkan tingkat ketaqwaan seorang muslim yang dapat menghantarkan pada kenikmatan tertinggi dari semua kenikmatan yang ada di surga adalah melihat (bertemu) Allah..

Bahkan bagi mereka yang berpuasa, telah tersedia pintu khusus untuk mereka
Dari Sahl dari Nabi bersabda : Sesungguhnya dalam surga terdapat sebuah pintu yang bernama Ar Rayyan, orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hari kiamat, dan selain mereka tidak akan masuk melaluinya. ….(Hadist riwayat Bukhari dan Muslim)
Namun sesungguhnya kegembiraan berpuasa, bertemu dengan Allah dapat juga kita rasakan atau kita alami saat kita di dunia.

Mereka yang merasakan bertemu Allah di dunia  adalah mereka yang gemar mengadukan segala macam persoalan kehidupannya di dunia ke hadapan Allah. Mereka yang dengan sesungguhnya mengatakan bahwa,
….. hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS  Al Fatihah [1] : 5 )
Mereka-mereka yang gembira dilihat Allah Azza wa Jalla.

Mereka-mereka yang gembira bertemu dengan Allah Azza wa Jalla di dunia.
Sebagian muslim belum mengimani bahwa kita dapat bertemu dengan Allah Azza wa Jalla di dunia walaupun kita tidak dapat melihatNya.

Sebagian muslim belum mengimani bertemu dengan Allah Azza wa Jalla di dunia karena kesalahpahaman memahami firman Allah ta’ala yang artinya,

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” [QS Al-An’aam: 103]
Allah Subhanahu wa Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi Musa Alaihissalam

Kamu sekali-kali tidak dapat melihat-Ku.” [QS Al-A’raaf: 143]
Demikian juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang akan bisa melihat Rabb-nya hingga ia meninggal dunia” (HR Muslim)

Juga pernyataan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata.
Barangsiapa menyangka bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabb-nya, maka orang itu telah melakukan kebohongan yang besar atas Nama Allah.” (Muslim)

Firman-firman Allah dan hadits diatas adalah petunjuk bahwa Allah tidak dapat kita lihat di dunia dengan mata kepala (secara dzahir / lahiriah).

Namun kita dapat menghadap kepada Allah,  bersama Allah, bertemu Allah, berlari kepada Allah (Fafirruu Ilallah) ketika di dunia walaupun kita di dunia  tidak dapat melihatNya.
Sebagai contoh bahwa kita menghadap Allah, bertemu Allah ketika di dunia adalah mendirikan sholat
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, bahwa Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin , “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“.

Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah Azza wa Jalla.
Sebagian muslim tidak menyadari bahwa mereka menghadap Allah Azza wa Jalla, bertemu Allah Azza wa Jalla di dunia. Mereka beribadah (menyembah Allah)  tanpa merasakan menghadap ke hadhirat Allah.
Sebagian muslim di dunia bahkan “menghindari” menghadap Allah Azza wa Jalla atau “menghindari” bertemu dengan Allah Azza wa Jalla, seolah-olah mereka dapat tidak terlihat oleh Allah Azza wa Jalla di dunia  padahal Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Maka kerugian besar bagi muslim yang belum dapat merasakan seolah-olah melihat Allah Azza wa Jalla di dunia, bertemu  Allah Azza wa Jalla, bersama dengan Allah ketika di dunia.
Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)

Mereka secara tidak disadari mengingkari apa yang mereka ucapkan bahwa
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS Al Fatihah : 1)
Sesungguhnya, “dengan menyebut nama Allah” itu adalah “dengan dzatNya”, bersama Allah, bertemu Allah, berlari kepada Allah (Fafirruu Ilallah).

Jadi, muslim yang berpuasa dan dapat mengalami, merasakan kegembiraan bertemu dengan Allah di dunia dan mengharapkan tetap bertemu dengan Allah di akhirat kelak  adalah mereka yang telah menjalankan puasa qalbu. Selama mereka berpuasa mereka melakukan secara sadar dan mengingat Allah. Mereka bersama Allah.

Buatlah perut-perutmu lapar dan qalbu-qalbumu haus dan badan-badanmu telanjang, mudah-mudah an qalbu kalian bisa melihat Allah di dunia ini (HR Bukhari).
Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”
“Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”
Wassalam
Readmore >>>

Melihat Puasa Menurut Pandangan Sufi




Berkatian dengan jenis dan tingkatan Puasa yang diungkapkan Imam al-Ghazali dalam tulisan saya sebelumnya, salah satu pandangan mengenai puasa yang berbeda dengan puasa kebanyakan adalah puasa dalam pandangan para sufi. Para Sufi berpandangan bahwa puasa adalah cara untuk menahan diri dari nafsu jasmani dan memutuskan hasrat-hasrat duniawi yang muncul dari pengaruh bisikan-bisikan syetan yang ditempatkan pada diri manusia.

Untuk menyikapi bisikan syetan itulah, Allah mengaruniakan hati kepada manusia. Hati adalah termasuk bala bantuan dari Allah, tetapi penganugrahan hati tersebut bisa saja malah bergabung dengan barisan syetan yang nantinya hanya akan membawa manusia menuju ke jurang kenistaan dan kehancuran.

Untuk menaklukan badan kepada jiwa, adalah perlu adanya cara yaitu dengan jalan melemahkan kekuatan badan demi meningkatkan kekuatan jiwa, dan hal itu telah dibuktikan dari berbagai penelitian para ahli. Hasilnya bahwa tiada sesuatu yang semanjur ini seperti lapar dan haus, pembuangan kemauan-kemauan hawa nafsu dan mengontrol lidah, hati (fikiran) dan anggota-anggota lain, selain dengan jalan berpuasa. Dari pandangan sufi ini, maka puasa memiliki fungsi untuk menghidupkan jiwa atau hati.

Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dalam karyanya Sirr al-Asrar menyatakan bahwa bila seseorang berpuasa hendaknya mampu mengharmonikan kondisi lahir dan batinnya, seperti perutnya yang dikosongkan dari makan dan minum. Jadi harus ada keseimbangan antara puasa dari sisi syariat, dan puasa dari sisi ruhani.
Terkait dengan pendapat itu, Ghulam Mu’inuddin mengatakan, Puasa yang paling baik yaitu puasa dalam dimensi pikiran. Dengan kata lain, ketika puasa tidak memikirkan apapun kecuali Allah. Puasa yang dikerjakan juga meliputi pengendalian penglihatan dari segala pandangan yang mengarah pada kejelekan dan menjauhkan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat seperti, berkata dusta, mefitnah, bicara tidak senonoh dan tindakan-tindakan yang berpura-pura. Singkatnya, orang-orang yang berpuasa seperti itu harus berupaya untuk berdiam diri, dan apabila mereka berkata-kata harus yang baik-baik sehingga jalan untuk mengingat kepada Allah semata akan lebih mudah.

Puasa dalam pandangan para sufi ini memang sangat sulit dilakukan dan hanya orang-orang yang sudah bisa memahami ibadah bukan sebagai perintah tetapi sudah pada taraf memahami ibadah secara hakikat, yang bisa melakukan puasa semacam ini.

Kita sebagai manusia kebanyakan tentu masih sulit melakukan puasa dalam pandangan para sufi ini. Hanya orang-orang tertentu yang telah mempunyai nilai ketakwan kuat dalam hati dan tingkah laku di mana dalam fikirannya yang ada hanya Allah semata tidak ada yang lain. Tetapi yang demikian itu puasa yang dimaksud oleh ajaran agama. Karena dengan jalan berpuasa yang demikian seseorang akan mampu merasakan dengan sebenar-benarnya manfaat dari pelaksanaan puasa. 

Puasa dalam pandangan para sufi ini memang sangat sulit dilakukan dan hanya orang-orang yang sudah bisa memahami ibadah bukan sebagai perintah tetapi sudah pada taraf memahami ibadah secara hakikat, yang bisa melakukan puasa semacam ini.

Kita sebagai manusia kebanyakan tentu masih sulit melakukan puasa dalam pandangan para sufi ini. Hanya orang-orang tertentu yang telah mempunyai nilai ketakwan kuat dalam hati dan tingkah laku di mana dalam fikirannya yang ada hanya Allah semata tidak ada yang lain. Tetapi yang demikian itu puasa yang dimaksud oleh ajaran agama. Karena dengan jalan berpuasa yang demikian seseorang akan mampu merasakan dengan sebenar-benarnya manfaat dari pelaksanaan puasa.






Readmore >>>

Rabu, 02 Juli 2014

Ramandhan Dalam Dimensi Sufi






Posoning rogo énténg dilakoni, cegah dahar lan ngombé jroning ari, ananging pasaning jiwa, iku kang kudhu dén reksa, tumindak asih sepining cela.
Artinya :
Puasa badan mudah dilakukan, mencegah makam dan minum sepanjang hari, namun puasa jiwa, itu yang seharusnya dijaga, menebar kasih sayang menjauhi pencelaan.

Semanten ugi pasaning ati, tumindak alus sarengé budi, supados ngunduh wohing pakerti, pilu mahasing sepi, mayu hayuning bumi.
Artinya :
Demikian pula puasa hati, sikap lemah lembut sebagai cermin kehalusan budi, supaya mendapat kebaikan sesuai dengan apa yang dingini, tiada harapan yang diinginkan, kecuali hanya ketentraman dan keselamatan dalam kehidupan.

Ramadhân terdiri dari lima huruf, Ra’, Mîm, Dhâd, Alîf, dan Nûn.

Hurup ra bermakna Rahmat, rahmat adalah irâdatu îshâalil khayr (Kehendak untuk menyambungkan kebaikan).
 Makna lain dari rahmat adalah riqqatun fil qalbi taqtadhî at-tafadhdhula wal-ihsâna (perasaan jiwa yang lembut yang melahirkan perbuatan yang baik dan luhur). Dalil yang menunjukkan rahmat dalam al-Quran: Q.S. Al-A’râf: 56, Q.S. Al-Anbiyâ: 107, Q.S. Fâthir: 2, Q.S. Az-Zukhrûf: 32, Q.S. Al-Hadîd: 27, Q.S. Az-Zumâr: 52, Q.S. Al-Isrâ: 82, Q.S. Âli Imrân: 158, dan Q.S. Yûnus: 58. Dalam ayat yang disebut terakhir (Yûnus: 58), Allah menyebutkan, bahwa disebabkan rahmat dan karunia Allah-lah kita mengalami segala hal, termasuk amal baik yang kita lakukan. Oleh karena itu,

Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Janganlah kamu merasa bahagia dengan ketaatan yang lahir darimu, tetapi berbahagialah karena ketaatan tersebut bersumber dari Allah”. Hal ini sesuai dengan firman Allah Q.S. Al-Takwîr: 29.

Huruf Mîm bermakna Murâqabah. Sesuai dengan firman Allah Q.S. Al-Ahzâb: 52. Ahmad Aljaririy berkata: “Barangsiapa yang tidak ada taqwa dan muraqabah antara dirinya dengan Allah, maka ia tidak akan sampai pada Kasyaf dan Musyahadah”. Menurut Imam Qusyairiy murâqabah sama dengan Ihsân, yang maksudnya selalu mawas diri dan merasa diperhatikan Allah Swt. Secara etimologi, Murâqabah berarti senantiasa memperhatikan yang dimaksud. Sedangkan secara terminologi, artinya adalah kesadaran untuk senatiasa memandang Allah dengan hati sanubari. Sebagian Ulama mengatakan: “barang siapa di dalam hatinya muraqabah terhadap Allah, maka Allah akan melindungi anggota tubuhnya”.

Huruf Dhâd maknanya Dhâllat, artinya kekayaan yang hilang. Kekayaan yang dimaksud adalah ilmu, sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah Saw.: “Kekayaan yang hilang dari seorang mukmin adalah ilmu”. Ilmu menempatkan seseorang yang memilikinya pada posisi derajat yang tinggi (Q.S. Al-Mujâdalah: 11) bahkan menempati posisi setelah Allah dan malaikat-Nya (Q.S. Âli Imrân: 18).
Ibnu Ruslan menyatakan dalam bait Syairnya:

Jadilah seseorang yang selalu bertambah ilmu dan faham tiap saat#
Dan berenanglah di segara manfaat
Setiap orang yang beramal tanpa didasari ilmunya#
Amalnya tertolah tak diterima

Huruf Alîf maknanya Idznun atau izin. Menurut lughawi izin artinya al-I’lâm atau pemberitahuan. Sedangkan menurut istilah, idzin adalah terbukanya larangan bagi orang yang terlarang. Izin yang dimaksud di sini adalah izin Allah Swt., seperti izin yang diberikan Allah kepada Ruhul Amin (Jibril As.) untuk menurunkan al-Quran kepada hati Nabi Muhammad Saw. Firman Allah Q.S. Al-Bâqarah: 97. Di dalam Al-Quran banyak kata-kata yang merupakan musytaq (derivasi) dari kata idznun. Di antaranya idznillâh, idzni rabbihi, idznî rabbihâ, idzni rabbihim, atau idznî semuanya menunjukkan pada makna izin Allah Swt.

Huruf nûn maknanya nasyâth atau rajin. Nasyâth adalah lawan makna kaslân atau malas. Nasyâth adalah sifat orang mukmin, sedangkan kaslân adalah sifat munafiq. Firman Allah Q.S. Al-Nisâ: 142. Sifat nasyâth yang dimilki seorang mukmin lahir karena pengaruh dzikir Jahar yang dilakukan secara kontinyu bakda shalat fardhu. Dzikir jahar yang dimaksud adalah mengucapkan Lâ ilâha illallâh menurut tatacara yang diajarkan Rasulullah Saw. Dzikir ini dapat memperbaharui iman. Sabda Rasulullah Saw.: ”Perbaharuilah iman kalian dengan ucapan Lâ ilâha illallâh”. Dalil yang menunjukkan adanya dzikir jahar adalah Q.S. Al-A’râf: 204. Singkatnya, dzikir jahar disyariatkan dalam al-Quran, namun sayang, kebanyakan orang tidak mau tahu. Bahkan ada yang beranggapan bahwa orang yang berdzikir jahar adalah orang yang gila. Firman Allah Q.S. Al-Qalâm: 51.

 
Readmore >>>

Selasa, 17 Juni 2014

Wayang Kulit Tergerus Arus Globalisasi


Praktisi budaya A Prayitno mengatakan kesenian tradisional wayang kulit saat ini semakin terdesak oleh globalisasi karena itu harus dilakukan upaya pelestarian kebudayaan tersebut.

"Saat ini kesenian wayang kulit di Tanah Air sudah semakin terdesak dengan kesenian modern. Sehingga masyarakat dalam hal ini generasi muda harus kembali dibangkitkan untuk kembali belajar tentang kesenian tersebut," katanya di sela-sela kegiatan "Wayang for Student" di Ubud, Bali, Selasa (15/4).
Menurut pemilik Museum Topeng dan Wayang Setia Darma Prayitno itu, jika tidak mulai sekarang diperkenalkan kepada anak-anak, mulai dari tingkat SD hingga SMA, maka kebudayaan khas bangsa ini akan langka dan punah.

"Generasi muda untuk mengetahui wayang kulit saat ini sudah mulai bergeser dengan kebudayaan modern, seperti yang ditayangkan kebanyakan televisi. Dengan demikian secara tidak langsung pemikirannya juga akan bergeser dengan kebudayaan adi luhung tersebut," katanya.
Oleh karena itu, peran pemerintah dan perusahaan swasta harus mampu berperan aktif dalam melestarikan kebudayaan wayang kulit itu.

"Lihat saja generasi muda yang menekuni pedalangan sangat sedikit prosentasenya dibanding jumlah generasi penerus yang ada di Indonesia. Karena itu peran pembinaan dan pelestarian harus terus digalakkan," ucap Prayitno yang memiliki koleksi ratusan topeng dan wayang dari berbagai daerah dan negara di dunia ini.
Ia mengatakan pihaknya salut dengan perusahaan swasta, seperti Bank BCA yang peduli terhadap pelestarian wayang kulit ini dengan melakukan program pengenalan wayang kulit terhadap pelajar.
"Saya berharap perusahaan swasta lainnya agar tergerak untuk melakukan langkah seperti yang dilakukan Bank BCA saat ini, yakni pelestarian wayang kulit itu," katanya.

Komisaris Independen BCA Cyrillus Harinowo mengatakan pihaknya akan terus berupaya melakukan pelestarian kebudayaan wayang tersebut.

"Pelestarian yang dilakukan melalui dana CSR perusahaan itu, kami melakukan program pelestarian wayang kulit. Tahun lalu di tempat ini (Museum Topeng dan Wayang) menggelar lokakarya tentang wayang kulit yang diikuti dari sejumlah daerah di Indonesia dan beberapa peserta dari luar negeri," katanya.
Namun kali ini sebagai keberlanjutan program adalah mengenalkan wayang kulit kepada pelajar di Bali. Sebelumnya kami juga mengenalkan wayang di mal di Jakarta. Sambutan dan antusias masyarakat terhadap wayang luar biasa.

"Artinya masyarakat sebenarnya masih peduli dengan kesenian wayang kulit tersebut. Namun ditengah zaman modern tersebut harus dibarengi dengan sentuhan teknologi kekinian, sehingga kesenian tersebut menarik warga untuk mempelajari," katanya.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga memberikan beasiswa terhadap ki dalang anak-anak, dengan tujuan mereka selain belajar formal juga mempelajari wayang kulit di luar jam sekolahnya.
"Beasiswa itu juga sudah kami serahkan kepada sejumlah ki dalang anak-anak yang dianggap layak dan memiliki talenta dalam kesenian wayang kulit tradisional tersebut. Dan kami pun bekerja sama dengan Kompas TV untuk menayangkan kesenian wayang kulit sejak setahun lalu," katanya.
Readmore >>>