Senin, 27 Agustus 2012

Suluk


Suluk di Nusantara tidak terlepas dari pengaruh ajaran para penyebar dan pemimpin agama Islam (khususnya Jawa), yang notabene adala Waliyullah. Mereka adalah orang2 yang tekun mengamalkan dan mengajarkan Suluk (Tasawuf). Zaman itu adalah zaman ketika tasawuf menjadi ajaran pokok di setiap pesantren2 yang menjadi basis pergerakan para wali.

Suluk dipahami sebagai tembang (pupuh) yang berisi ajaran Tarekat, sedangkan Tarekat dipahami sebagai ajaran yang mengatur tata cara dzikir yang terikat dengan guru pertama yang mengajarkan metode itu.

Dalam perjalanannya, Suluk di tanah Jawa berkembang menjadi dua model: Tarekat dan Suluk. Tarekat kemudian diidentikkan dengan ajaran2 tasawuf yang ditulis dalam bentuk prosa, dan suluk diidentikan dengan ajaran2 tasawuf yang ditulis dalam bentuk pupuh dan kidung.

Kalau di Pedalangan Suluk : diartikan sebagai nyanyian puitis seorang dalang melukiskan suasana, misal ooong, bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon, kenya ilang wewadine, wadananira kumel kusem ilang rahnya para tani....ooooong...

"Suluk adalah Jalan Spirituil Thoriqoh yang tersirat untuk para orang-orang Salik".

Salik adalah orang yang melakoni suatu thoriqoh ( Tarekat Tasawuf ).

Dan upaya menyiarkan/berdakwah digunakan budaya lokal yang sudah kental di daerah tersebut.
Karena dahulu tanah jawa mayoritas beragama hindu dan budha maka ada pencampuran dengan budaya lokal,  agama sebelumnya, dan agama baru yang dibawa wali songo (Islam)

Sehingga Suluk dipakai Seorang Dalang dalam pagelaran Wayang Kulit ,yang nyata dalam pagelaran wayang kulit suluk disuarakan oleh dalang dengan mengutamakan Mutu Suara,sehingga selaras dengan Cerita yang dipertunjukan,tak heran jika baik buruknya penampilan dalang juga dinilai dari Suara Suluknya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar